Lahir:
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki lima puluh kota Sumatera Barat.2 Juni 1987 dan meninggal di Desa Selopanggung, ia melanjutkan pendidikannya di Harleem Belanda pada tahun 1913. Tahun 1919, ia kembali ke Indonesia untuik menjadi Guru bagi anak - anak kaum buruh di perkebunan sumatera.
Sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki lima puluh kota Sumatera Barat.2 Juni 1987 dan meninggal di Desa Selopanggung, ia melanjutkan pendidikannya di Harleem Belanda pada tahun 1913. Tahun 1919, ia kembali ke Indonesia untuik menjadi Guru bagi anak - anak kaum buruh di perkebunan sumatera.
Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim, sedangkan Tan
Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis turunan ibu.Nama
lengkapnya adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Tanggal kelahirannya
masih diperdebatkan, sedangkan tempat kelahirannya sekarang dikenal dengan nama
Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayah dan Ibunya
bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang
yang disegani di desa. Semasa kecilnya, Tan Malaka senang mempelajari ilmu agama
dan berlatih pencak silat.Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool
(sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut GH Horensma, salah satu guru di
sekolahnya itu, Tan Malaka adalah murid yang cerdas, meskipun kadang-kadang
tidak patuh.Di sekolah ini, ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga
Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang
bertalenta. Setelah lulus dari sekolah itu pada tahun 1913, ia ditawari gelar
datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima
gelar datuk.Gelar tersebut diterimanya dalam sebuah upacara tradisional pada
tahun 1913.
Meskipun diangkat menjadi datuk, pada bulan Oktober 1913, ia
meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru
pemerintah), dengan bantuan dana oleh para engku dari desanya. Sesampainya di
Belanda, Malaka mengalami kejutan budaya dan pada tahun 1915, ia menderita
pleuritis. Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai muncul dan
meningkat setelah membaca buku de Fransche Revolutie yang ia dapatkan dari
seseorang sebelum keberangkatannya ke Belanda oleh Horensma. Setelah Revolusi
Rusia pada Oktober 1917, ia mulai tertarik mempelajari paham Sosialisme dan
Komunisme. Sejak saat itu, ia sering membaca buku-buku karya Karl Marx,
Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Friedrich Nietzsche juga menjadi salah
satu panutannya. Saat itulah ia mulai membenci budaya Belanda dan terkesan oleh
masyarakat Jerman dan Amerika. Karena banyaknya pengetahuan yang ia dapat
tentang Jerman, ia terobsesi menjadi salah satu angkatan perang Jerman. Dia
kemudian mendaftar ke militer Jerman, namun ia ditolak karena Angkatan Darat
Jerman tidak menerima orang asing. Setelah beberapa waktu kemudian, ia bertemu
Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal Democratische Vereeniging
(ISDV, yakni organisasi yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia). Ia
lalu tertarik dengan tawaran Sneevliet yang mengajaknya bergabung dengan
Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (SDOV, atau Asosiasi Demokratik
Sosial Guru). Lalu pada bulan November 1919, ia lulus dan menerima ijazahnya
yang disebut hulpactie.
Mengajar
Setelah lulus dari SDOV, ia kembali ke desanya. Ia kemudian
menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan
teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia tiba di sana pada
Desember 1919 dan mulai mengajar anak-anak itu berbahasa Melayu pada Januari
1920. Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda subversif
untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor. Selama masa ini, ia mengamati dan
memahami penderitaan serta keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera. Ia
juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa.
Salah satu karya awalnya adalah "Tanah Orang Miskin", yang
menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum
kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret 1920.[19] Ia
juga menulis mengenai penderitaan para kuli kebun teh di Sumatera Post.
Selanjutnya, Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun
1920 mewakili kaum kiri. Namun ia akhirnya mengundurkan diri pada 23 Februari 1921
tanpa sebab yang jelas. Ia lalu membuka sekolah di Semarang atas bantuan
Darsono, tokoh Sarekat Islam (SI) Merah. Sekolah itu disebut Sekolah Rakyat.
Sekolah itu memiliki kurikulum seperti sekolah di Uni Sovyet, dimana setiap
pagi murid-murid menyanyikan lagu Internasionale". Tan juga pernah bertemu
dengan banyak tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto dan H. Agus Salim.
Dalam otobiografinya, Tan menganggap bahwa SI di bawah Tjokroaminoto adalah satu-satunya
partai massa terbaik yang ia ketahui. Tapi, Tan mengkritik saat terjadi
perpecahan di SI, organisasi SI tidak memiliki tujuan dan taktik sehingga
terpecah.
Sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka
Komentar
Posting Komentar